Aminuddin Ma’ruf, Santri-Aktivis PMII dan Stafsus Milenial Presiden RI

laanto, 25 Nov 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Anak muda atau yang kini disebut sebagai kaum milenial mendapat perhatian besar dari Presiden Jokowi pada periode keduanya kali ini. Kaum milenial tidak hanya dijadikan obyek pembangunan, tetapi juga dijadikan sebagai subyek pembangunan itu sendiri.

Kaum milenial ikut dilibatkan dan ditempatkan pada jabatan-jabatan atau posisi-posisi strategis di pemerintahan untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia maju yang menjadi visi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin saat ini. 

Setelah sebelumnya Presiden Jokowi menunjuk Nadim Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, kini kaum milenial kembali diberi jabatan strategis sebagai Staf Khusus  Presiden RI.

Ada tujuh anak muda yang dipercayai untuk menempati posisi tersebut, yaitu Adamas Belva Syah Devara, Putri Indahsari Tanjung, Andi Taufan Garuda Putra, Ayu Kartika Dewi, Gracia Billy Mambrasar, Angkie Yudistia dan yang terakhir adalah Aminuddin Ma’ruf. 

Saat diperkenalkan di publik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, ketujuh Staf Khusus (Stafsus) Presiden dari kalangan milenial ini, yang paling beda dan menarik perhatian adalah saat nama Aminuddin Ma,ruf disebut. Bagaimana tidak, ketika keenam nama yang lain disebut, background mereka dibacakan, rata-rata merupakan jebolan kampus-kampus ternama luar negeri dari Oxford University hingga Harvard University. 

Mereka juga rata-rata merupakan CEO bahkan founder dari perusahaan-perusahan yang bergerak di berbagai bidang dengan berbagai prestasi dan sumbangsih. Sehingga menjadi hal yang wajar dan biasa saja ketika background mereka dijadikan sebagai standar penilaian dan standar pengalaman bagi Presiden Jokowi untuk menunjuk mereka sebagai Staf Khususnya.  

Lalu bagaimana dengan Aminuddin Ma’ruf? Saat namanya disebut oleh Presiden Jokowi, label santri disematkan kepadanya. Selain itu juga, Presiden Jokowi juga menyebut pengalaman dari anak muda berusia 33 tahun ini sebagai mantan Ketua Umum PB PMII (Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Dua background inilah yang disebut oleh Presiden Jokowi untuk memperkenalkan Aminuddin Ma’ruf di depan publik.

Ia adalah milenial yang santri. Ia juga adalah milenial yang aktivis mahasiswa-aktivis PMII. Ia bukan milenial yang mengeyam pendidikan di kampus-kampus luar negeri ternama. Ia hanya merupakan alumni Universitas Negeri Jakarta. Ia juga bukan milenial yang memilki dan memimpin perusahaan-perusahaan bisnis yang sukses dan besar. 

Ia hanya pernah memimpin organisasi kemahasiswaan yaitu PMII. Ia bukan milenial yang lahir dari rahim konglomerat. Ia hanyalah anak seorang petani di sebuah desa di Karawang, Jawa Barat. Tetapi ia mampu menarik perhatian Presiden Jokowi untuk menjadikannya salah satu Staf Khusus Presiden yang akan menjadi teman cerita Presiden. Bisa jadi Presiden Jokowi melihat nilai lebih darinya dengan background santri dan aktivis PMII.

Selama menjadi ketua umum PB PMII periode 2014-2017, Aminuddin Ma’ruf mampu melakukan gebrakan-kebrakan dan terobosan-terobosan dalam kepemimpinannya baik secara internal maupun eksternal. Secara internal misalnya, ia berhasil melahirkan tertib struktur dan tertib administrasi dalam organisasi dari tingkatan provinsi, hingga kabupaten/kota. 

Melakukan pemangkasan usia bagi pengurus hingga menciptakan pola kaderisasi yang tersistem dan masif. Melakukan pelarangan kegiatan-kegiatan internal organisasi seperti pelantikan dan lainnya dilakukan di hotel, tetapi dilakukan di masjid, musholah, pesantren atau di dalam kampus untuk mewujudkan salah satu misinya yaitu PMII kembali ke Masjid. Sementara itu secera eksternal, PMII di bawah kepemimpinannya aktiv dan secara masiv bergerak dalam melakukuan deradikaslisasi. 

PMII hadir tidak hanya di kampus-kampus Islam tetapi juga di kampus-kampus umum untuk menangkal penyebaran paham-paham radikalisme dan ekstrimisme. Ikut aktiv menyebarkan Islam Alhlusunnah Wal Jama’ah yang rahmatan lil alamin. Secara umum, mantan ketua cabang PMII Jakarta Timur ini mampu dan berhasil memimpin organisasi kemahasiswaan dengan cabang terbanyak di Indonesia sehingga PMII saat ini menjadi organisasi kemahasiswaan yang sangat diperhitungkan baik secara nasional maupun di daerah-daerah.

Menurut penulis, disebutnya background santri dan aktivis PMII yang disematkan kepada Aminuddin Ma’ruf menjadi penanda atau sinyal bahwa santri dan aktivis PMII bisa bersaing dan berdiri sejajar dengan para jebolan-jebolan kampus luar negeri ternama. 

Santri dan aktivis PMII juga bisa berkontribusi besar bagi bangsa seperti halnya para pengusaha muda yang memimpin perusaha-perusahaan besar. Ide dan gagasan santri dan aktivis PMII juga dapat dipakai untuk melakukan inovasi-inovasi sehingga menemukan cara-cara baru yang "out of the box" untuk kemajuan Indonesia seperti harapan Presiden Jokowi. 

Singkatnya bahwa santri dan PMII bisa dijadikan standar penilaian dan pengalaman untuk ikut terlibat dalam pembangunan serta aktif  berkontribusi untuk bangsa dan negara melalui pemerintahan.

Anak petani yang lahir di Desa Tanah Baru Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang, Povinsi Jawa Barat ini akan menjadi teman cerita Presiden Jokowi. Ia akan ditugaskan untuk keliling ke pesantren-pesantren untuk menebar gagasan-gagasan dan inovasi-inovasi baru kepada santri. Termasuk juga kepada para mahasiswa di kampus-kampus. 

Oleh karena itu, bagi para santri dan aktivis mahasiswa khususnya PMII tidak perlu minder dengan mereka yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus luar negeri ternama. Santri dan aktivis PMII tidak perlu ragu dengan potensi diri apalagi sampai cemas dengan masa depan nanti. 

Hari ini Aminuddin Ma’ruf telah menunjukkan kepada publik bahwa santri dan aktivis PMII sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara untuk menjawab tantangan-tantangan kekinian dan di masa depan dengan ide dan gagasan baru serta inovasi-inovasi yang mampu menjawab tantangan zaman dan mampu membawa kemajuan bagi Indonesia. 

Bahwa hari ini ia berhasil membesarkan predikat santri dan aktivis PMII di mata publik. Santri dan aktivis PMII bisa bersaing dan berdiri sejajar dengan para milenial jebolan kampus-kampus luar negeri ternama dan milenial founder dan CEO perusahaan-perusahaan sukses dan berprestasi. Tetap dan selalu bangga menjadi Santri. Tetap dan selalu bangga menjadi aktivis PMII.(*)

Penulis: Falihin Barakati (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII dan Mahasiswa Pascasarjana UNJ).

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu